MAKALAH MEDIA DAN SUMBER BELAJAR ALMAYANTI 080
TEORI MEDIA DAN KAWASAN
DISIPLIN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN

Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Makalah pada Mata Kuliah
Media dan Sumber Belajar Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Alauddin Makassar
Dosen Pengampu: Dr. Rosdiana, M.Pd.I
Oleh: Kelompok 2
MUH. RIDWAN JANWAR AWAL MALIK
NIM: 20100120079
ALMAYANTI
NIM: 20100120080
AHMAD YUSUF NAWIR
NIM: 20100120081
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2021
KATA PENGANTAR
ميحرلٱ نمحرلٱ للَٱ مسب
Alhamdulillahi Robbil’alamin, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah
swt. Dia-lah Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Berkat rahmat dan karunia- Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan
dengan baik. Shalawat seiring salam
semoga selalu tercurah kepada nabi akhir zaman, suri teladan bagi kita semua yakni Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang setia dan istiqomah berada di atas ajarannya hingga hari kiamat.
Makalah yang berjudul “Teori Media dan Kawasan Disiplin Teknologi
Pembelajaran” ini merupakan perwujudan tugas kelompok dari mata kuliah Media
dan
Sumber Belajar dalam melakukan sebuah diskusi. Makalah ini disusun untuk memberikan
pemahaman kepada kita semua tentang hal-hal
yang mencakup tentang
penggunaan teknologi
dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan semakin majunya
ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus
dimanfaatkan dalam pendidikan.
Namun, makalah ini jauh dari kata sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Maka dari itu, penulis berharap kritik dan saran yang membangun
dari pembaca jika menemukan kekurangan dalam makalah ini.
Akhirul kalam, penulis mengucapkan
terima kasih
kepada pihak yang
membantu penyusunan makalah ini, termasuk dosen pengampu yang memberikan tugas dan arahannya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan menjadi motivasi bagi penulisnya.
Makassar, 22 September
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................. i DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii BAB
I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah
................................................................................. 1
C. Tujuan ................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
....................................................................................... 3
A. Sejarah dan Landasan Teori Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran
3
B. Prinsip dan Landasan Penggunaan Media Pembelajaran........................ 6
C. Pengertian Teknologi Pembelajaran .................................................... 11
D. Kawasan Teknologi Pembelajaran ...................................................... 13
BAB III
PENUTUP .............................................................................................. 22
A. Kesimpulan ........................................................................................ 22
B. Saran .................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 23
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pendidikan merupakan salah satu penunjang
kemajuan peradaban dunia.
Tidak heran jika pendidikan menjadi fokus
utama yang harus dikembangkan dengan mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi agar dapat menyesuaikan zaman. Dalam pendidikan, ada yang dinamakan sistem
pembelajaran yang bertujuan
dalam menentukan metode, tujuan, media,
sumber, yang akan digunakan peserta
didik untuk belajar di
kelas. Sistem
pembelajaran sangat membutuhkan media dan
sumber belajar. Maka dari itu, untuk mendukung penggunaan media dan sumber belajar, digunakanlah teknologi yang sesuai.
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran akan membantu dan memudahkan peserta didik dan pendidik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Akan tetapi,
teknologi sering kali dikesampingkan dalam menunjang pembelajaran. Padahal di era
serba teknologi ini, sangat dibutuhkan peran teknologi
dalam mendukung pembelajaran, baik itu di
rumah maupun di sekolah. Maka dari itu, makalah ini akan memberikan
penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan kawasan
teknologi
sebagai media dalam melaksanakan pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka diajukan rumusan masalah antara lain:
1
2
1. Bagaimana sejarah dan landasan teori penggunaan media dalam pembelajaran?
2. Apa landasan dan prinsip penggunaan media pembelajaran?
3. Apa pengertian kawasan teknologi pembelajaran?
4. Apa saja yang mencakup dalam kawasan teknologi pembelajaran?
C. Tujuan
Bersumber pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penyusunan makalah
ini yaitu:
1. Untuk mengetahui landasan teori penggunaan media dalam pembelajaran.
2. Untuk mengetahui landasan dan prinsip penggunaan media pembelajaran.
3. Untuk mengetahui pengertian kawasan teknologi pembelajaran.
4. Untuk mengetahui hal-hal
yang mencakup dalam
kawasan teknologi pembelajaran.
BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah dan Landasan Teori Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran
Teknologi Pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan
komunikasi audio visual. Teknologi
Pembelajaran semula dilihat sebagai
teknologi
peralatan, yang berkaitan
dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan atau dengan kata lain mengajar dengan alat bantu audio- visual. Teknologi Pembelajaran merupakan gabungan dari
tiga aliran yang saling berkepentingan, yaitu media dalam
pendidikan, psikologi pembelajaran dan
pendekatan sistem dalam pendidikan. Edgar Dale dan James Finn merupakan dua tokoh yang berjasa dalam
pengembangan Teknologi Pembelajaran modern. Edgar
Dale
mengemukakan tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) sebagaimana tampak dalam gambar 2.1 berikut ini:
Gambar 2.1
3
Dari
gambar tersebut dapat kita lihat rentangan tingkat pengalaman dari yang bersifat langsung hingga ke pengalaman melalui simbol-simbol komunikasi, yang
merentang dari yang bersifat konkret ke abstrak, dan tentunya memberikan implikasi
tertentu terhadap pemilihan metode dan bahan pembelajaran, khususnya dalam
pengembangan Teknologi Pembelajaran .
Pemikiran Edgar Dale tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) ini
merupakan upaya
awal untuk
memberikan alasan atau dasar
tentang
keterkaitan
antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual dan juga salah satu gambaran yang paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan teori penggunaan media dalam
memberi pengalaman
dalam proses pembelajaran. Kerucut Pengalaman Dale telah
menyatukan teori
pendidikan John Dewey (salah satu tokoh aliran progresivisme)
dengan gagasan – gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer pada masa
itu.
Sedangkan, James Finn seorang mahasiswa tingkat doktoral
dari
Edgar Dale berjasa dalam mengusulkan bidang komunikasi
audio-visual menjadi Teknologi
Pembelajaran yang kemudian berkembang hingga saat ini menjadi
suatu profesi tersendiri, dengan
didukung oleh
penelitian, teori dan
teknik tersendiri. Gagasan Finn mengenai terintegrasinya sistem dan proses mampu mencakup dan memperluas gagasan Edgar Dale tentang keterkaitan antara bahan dengan proses
pembelajaran. 1
Terdapat sepuluh
macam klasifikasi media pengajaran yang
digunakan
berdasarkan gambar di atas, yakni:
1Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran (Cet. I;Banjarmasin: IAIN Antasari
Press, 2012), h. 19-20.
1. Mengalaminya secara langsung, dengan melakukannya atau berbuat, pengalaman ini diperoleh
dengan berhubungan secara langsung dengan benda,
kejadian, atau
obyek yang
sebenarnya. Peserta didik secara
aktif bekerja sendiri, memecahkan masalah
sendiri
yang kesemuanya didasarkan atas tujuan
yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Mengamati
orang lain melakukannya, pengalaman ini diperoleh melalui benda-
benda atau kejadian-kejadian tiruan yang sebenarnya.
3. Pengalaman melalui dramatisasi,
pengalaman semacam
ini diperoleh dalam
bentuk drama dari berbagai gerakan, atau bermain peran .
4. Demonstrasi, yaitu pengalaman melalui
percontohan
atau pertunjukan
mengenai suatu
hal atau
sesuatu proses, misalnya cara wudhu
yang benar,
peragaan tata cara sholat ,
dan
sebagainya.
5. Pengalaman melalui darmawisata, pengalaman semacam ini diperoleh
dengan mengajak siswa ke
obyek diluar kelas dengan maksud memperkaya dan memperluas pengalaman siswa.
6. Pengalaman melalui pameran
(Study Display), pengalaman
ini
diperoleh melalui pertunjukan
hasil pekerjaan siswa
perkembangan
dan kemajuan sekolah.
7. Pengalaman melalui gambar hidup (televisi) atau film, gambar hidup merupakan
rangkaian
gambar-gambar yang
diproyeksikan ke layar dengan
kecepatan tertentu, bergerak secara kontinyu sehingga benar-benar mewujudkan gerakan yang normal dari apa yang diproyeksikan.
8. Pengalaman melalui rekaman, radio, gambar mati, pengalaman di sini diperoleh
melalui siaran radio, dalam bentuk ceramah, wawancara dan sandiwara.
9. Pengalaman melalui lambang visual, pengalaman disini diperoleh
melalui
lambang-lambang visual, seperti hasil lukisan dan bentuknya lengkap atau tidak lengkap (sketsa) lengkap dengan garis-garis gambar yang dijelmakan
secara
logis untuk meragakan antara fakta dan ide (bagan).
10. Pengalaman melalui lambang kata/verbal, pengalaman
semacam
ini
diperoleh dalam buku, majalah dan dan bahan bacaan lainnya.2
B. Prinsip dan Landasan Penggunaan Media Pembelajaran
1. Prinsip Penggunaan Media Pembelajaraan
Prinsip
pokok yang
harus
diperhatikan dalam penggunaan
media
pada setiap
kegiatan belajar mengajar adalah bahwa media digunakan dan diarahkan untuk mempermudah
siswa
belajar
dalam upaya
memahami
materi pelajaran. Dengan demikian, penggunaan media harus dipandang dari sudut kebutuhan siswa. Hal ini
perlu ditekankan sebab sering media dipersiapkan hanya dilihat dari sudut kepentingan guru.
Ada beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan
oleh pengajar dalam
memilih dan menggunakan media pembelajaran, yaitu:
a) Tidak ada satu media yang paling unggul untuk semua tujuan. Satu media hanya
cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok untuk yang
lain.
2Supriyanti, “Teori Media Pembelajaran dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar (Cone of
Experience dan
Bruner)”, Dwija Inspira,
http://dwijainspira.id/index.php/DI/article/view/4/2 (22
September 2021).
b) Media adalah bagian intregal dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa
media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar pengajar saja., tetapi
merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran.
c) Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar siswa. Kemudahan belajar siswa haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.
d) Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan/pengisi waktu
atau hiburan,
melainkan
mempunyai tujuan
yang menyatu dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.
e) Pemilihan media hendaknya obyektif (didasarkan pada tujuan pembelajaran), tidak didasarkan pada kesenangan pribadi.
f) Penggunaan beberapa
media
sekaligus
akan
dapat membingungkan siswa.
Penggunaan multimedia tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus, tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang
lain untuk tujuan yang lain pula.
g) Kebaikan dan
keburukan
media
tidak tergantung pada
kekonkritan dan
keabstrakannya. Media yang kongkrit wujudnya, mungkin sukar untuk dipahami
karena rumitnya, tetapi media yang abstrak dapat pula memberikan
pengertian yang tepat.3
2. Landasan Penggunaan Media Pembelajaran
a) Landasan Psikologi
3Hartanto, “Buku Ajar Media Pembelajaran”,
https://hartanto104.files.wordpress.com/2013/09/buku-ajar_media-pembelajaran.pdf (22 September
2021), h. 20-21.
Belajar adalah proses yang kompleks dan
unik;
artinya, sesorang yang belajar melibatkan segala aspek kepribadiannya, baik fisik maupun mental. Keterlibatan dari semua aspek kepribadian ini akan nampak dari perilaku belajar orang itu.
Keunikan perilaku belajar ini
disebabkan oleh adanya perbedaan karakteristik
yang menentukan perilaku belajar, seperti: gaya belajar (visual vs auditif), gaya kognitif (field independent vs field dependent), bakat, minat, tingkat kecerdasan, kematangan intelektual, dan lainnya yang bisa diacukan
pada karakteristik individual
siswa.
Perilaku belajar siswa yang kompleks dan unik ini menuntut layanan dan
perlakuan pembelajaran yang kompleks dan
unik
pula untuk setiap siswa. Komponen
pembelajaran yang bertanggungjawab untuk menangani masalah ini adalah strategi
penyampaian pembelajaran, lebih khusus lagi media pembelajaran. Strategi
(media)
pembelajaran haruslah dipilih sesuai dengan karakteristik individual siswa. Ia sedapat mungkin harus memberikan layanan
pada setiap siswa sesuai
dengan karakteristik belajarnya.
Perubahan perilaku sebagai akibat dari belajar dapat dikelompokkan ke dalam
3 aspek, yaitu: kognitif, sikap, dan
keterampilan. Setiap aspek menuntut penggunaan
media
pembelajaran yang berbeda. Artinya, belajar kognitif memerlukan media yang berbeda dibandingkan siswa yang belajar aspek lainnya. Atas
dasar ini, diperlukan
strategi penyampaian
yang menggunakan
multimedia
untuk memenuhi tuntutan belajar aspek yang berbeda-beda.
Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran
hendaknya
menggunakan urutan
dari belajar dengan
gambaran atau
film
(iconic
representation of
experiment)
kemudian ke belajar dengan simbol, yaitu menggunakan
kata-kata (symbolic
representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi
juga
untuk orang dewasa. Kedua, Charles F.
Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada
tingkat
realistiknya dalam proses penanaman konsep,
ia membuat jenjang berbagai jenis
media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
b) Landasan Filosofis
Seorang guru dalam
menggunakan media pembelajaran
perlu memperhatikan
landasan filosofis. Artinya, penggunaan media semestinya didasarkan
pada nilai kebenaran yang telah ditemukan dan sepakati banyak orang.
Baik kebenaran akademik maupun kebenaran sosial. Media yang disampaikan guru juga perlu dicek
kembali kebenaran dan ketepatannya. Guru yang memilih media belum sesuai dengan materi
yang akan
disampaikan
berarti
media tersebut tidak benar, tidak bagus, dan
tidak indah. Artinya penggunaan media yang tidak tepat belum mempertimbangkan landasan filosofis.
Ada suatu pandangan, bahwa dengan
digunakannya berbaga jenis media hasil
teknologi baru di dalam kelas,
akan
berakibat proses pembelajaran
yang kurang
manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi
dehumanisasi. Benarkah pendapat tersebut? Bukankah dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang lebih sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain, siswa dihargai harkat kemanusiaannya diberi
kebebasan untuk
menentukan pilihan, baik
cara
maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya.
Dengan demikian,
penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak
perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam
proses
pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan
pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau
tidak,
proses
pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
c) Landasan Teknologi
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan belajar siswa.
Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di
bidang pembelajaran
mengembangkan berbagai
sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan
setiap siswa sesuai dengan karakteristiknya. Dalam upaya itu, teknologi bekerja mulai dari pengembangan dan
pengujian teori-teori tentang
berbagai
media
pembelajaran melalui penelitian ilmiah sampai dengan mengembangkan prosedur penggunannya dan akhirnya menggunakannya baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi
(diseminasi). Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan
berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh siswa yang memiliki karakteristik sesuai dengan
rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan
demikian, proses belajar setiap siswa akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran
yang sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam teknologi
pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadi
sistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen tersebut meliputi pesan, orang,bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.
d) Landasan Empirik
Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa ada interaksi antara
penggunaan media pembelajaran
dan karakteristik belajar siswa dalam
menentukan
hasil belajar siswa. Artinya, bahwa
siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila
ia belajar dengan
menggunakan media yang sesuai dengan karakteristiknya.
Siswa yang memiliki
gaya belajar visual akan lebih mendapatkan keuntungan dari menggunakan media visual, seperti
film, video, gambar atau diagram. Sedangkan siswa yang memiliki
gaya belajar auditif lebih mendapatkan keuntungan dari penggunaan media pembelajaran auditif, seperti rekaman suara , radio atau ceramah
dari guru/ pengajar. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe
belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.4
C. Pengertian Teknologi Pembelajaran
Kata teknologi (technology)
berasal dari bahasa Yunani techne yang berarti
seni, kerajinan, atau keterampilan dan logia
yang berarti kata, studi, atau tubuh ilmu
pengetahuan. Secara etimologi, teknologi merupakan pengetahuan
tentang membuat sesuatu. Technology is
the application of
knowledge for a practical
purpose. Maksudnya,
teknologi
adalah
aplikasi pengetahuan
untuk
suatu tujuan
praktis.
Definisi yang lebih formal diberikan oleh Galbraith dalam Newby dkk. bahwa
teknologi adalah “the systematic
application of scientific
or
other
organized
4Hartanto, “Buku Ajar Media Pembelajaran”,
https://hartanto104.files.wordpress.com/2013/09/buku-ajar_media-pembelajaran.pdf (22 September
2021), h. 16-20.
knowledge to practical tasks”. Maksudnya, teknologi adalah aplikasi sistematis dari
pengetahuan ilmiah atau pengetahuan terorganisir lainnya untuk tugas-tugas praktis.5
Menurut KBBI, Pembelajaran merupakan proses, cara, perbuatan menjadikan
orang atau makhluk hidup belajar. Menurut Chauhan, pembelajaran adalah upaya dalam memberi
perangsang (stimulus), bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada
siswa agar terjadi proses belajar.6 Menurut Winataputra,
pembelajaran ialah kegiatan
yang dilakukan untuk menginisiasi, memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan
kualitas belajar pada peserta didik.
Definisi Commission on Instruction
Technology (CIT) 1970, Teknologi Pembelajaran merupakan
usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan
mengevaluasi
keseluruhan proses belajar untuk suatu
tujuan khusus, serta didasarkan
pada penelitian
tentang proses belajar dan
komunikasi
pada manusia yang menggunakan
kombinasi sumber manusia dan non-manusia agar belajar dapat berlangsung efektif.
Definisi AECT 1972,
Pada tahun 1972, AECT berupaya merevisi definisi
yang sudah ada (1963, 1970, 1971), dengan memberikan rumusan
sebagai berikut: “Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang yang
berkepentingan dengan
memfasilitasi belajar pada manusia
melalui usaha sistematik dalam : identifikasi,
5MAG Learning, “Definisi Teknologi Pembelajaran Menurut Para Ahli”, Situs Resmi MAG
Learning, https://maglearning.id/2021/03/03/definisi-teknologi-pembelajaran-menurut-para-ahli/
(22
September 2021)
6Sunhaji, “Konsep Manajemen Kelas
dan Implikasinya dalam Pembelajaran”, Jurnal Kependidikan, vol. 11 no. 2 (November 2014), https://media.neliti.com/media/publications/104713-ID-
konsep-manajemen-kelas-dan-implikasinya.pdf (22 September 2021), h. 33.
pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar
serta dengan pengelolaan atas
keseluruhan proses tersebut”.7
Menurut Nasution, teknologi pendidikan adalah media yang lahir dari perkembangan alat informasi yang digunakan untuk tujuan pendidikan. Teknologi
pendidikan adalah pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik, dan alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan proses
belajar manusia.
Jadi, teknologi
pembelajaran menurut penulis adalah suatu hal yang digunakan sebagai aplikasi atau
sarana yang
mendukung metode
pada kegiatan
belajar-mengajar dalam mencapai tujuan secara praktis dan efisien.
D. Kawasan Teknologi Pembelajaran
Definisi
1994, dirumuskan berlandaskan lima bidang garapan
dari
Teknologi Pembelajaran, yaitu :
Desain, Pengembangan, Pemanfaatan, Pengelolaan
dan Penilaian. Kelima hal ini merupakan kawasan (domain) dari bidang Teknologi Pembelajaran. Di bawah ini akan
diuraikan kelima kawasan tersebut, dengan
sub
kategori dan konsep yang terkait:
1. Kawasan Desain
Desain
di sini
adalah
proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan
untuk menciptakan strategi
dan produk. Kawasan desain bermula dari gerakan
psikologi pembelajaran, terutama
diilhami
dari pemikiran B.F.
Skinner (1954)
tentang teori pembelajaran berprogram (programmed instructions).
7Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran, h. 21-22.
Aplikasi teori sistem
dalam pembelajaran melengkapi dasar psikologi pembelajaran tersebut. Melalui
James Finn dan Leonard Silvern, pendekatan sistem
pembelajaran secara bertahap mulai berkembang menjadi suatu metodologi dan mulai memasukkan gagasan dari psikologi
pembelajaran. Kolaborasi Robert Gagne dengan Leslie Briggs telah menggabungkan keahlian psikologi
pembelajaran dengan bakat dalam
desain sistem
yang membuat konsep desain pembelajaran menjadi
semakin
hidup.
Kawasan Desain paling tidak meliputi
empat cakupan utama dari teori dan
praktek, yaitu:
a) Desain Sistem Pembelajaran; yaitu prosedur yang terorganisasi, meliputi langkah- langkah :
1) Penganalisaan (proses perumusan apa yang akan dipelajari);
2) Perancangan (proses
penjabaran bagaimana cara mempelajarinya);
3) Pengembangan (proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan pelajaran);
4) Pelaksanaan/aplikasi (pemanfaatan bahan dan strategi) dan
5) Penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran).
b) Desain Pesan; yaitu perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim dan
penerima, dengan memperhatikan prinsip-
prinsip perhatian, persepsi, dan daya tangkap. Fleming dan Levie membatasi pesan
pada pola-pola isyarat, atau simbol yang dapat memodifikasi
perilaku kognitif,
afektif dan psikomotor. Desain pesan berkaitan dengan hal-hal mikro, seperti
: bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah.
c) Strategi Pembelajaran; yaitu spesifikasi untuk
menyeleksi serta mengurutkan peristiwa belajar atau kegiatan belajar dalam suatu pelajaran. Teori tentang strategi pembelajaran meliputi
situasi belajar dan komponen belajar/mengajar. Dalam
mengaplikasikan suatu strategi pembelajaran bergantung pada situasi belajar, sifat materi dan jenis belajar yang dikehendaki.
d) Karakteristik
Pebelajar, yaitu
segi-segi latar belakang pengalaman
pebelajar yang mempengaruhi terhadap efektivitas proses belajarnya. Karakteristik pebelajar mencakup keadaan sosio-psiko-fisik pebelajar.8
2. Kawasan Pengembangan
Kawasan pengembangan berakar pada produksi media. Melalui proses yang bertahun-tahun perubahan dalam
kemampuan media ini berakibat pada perubahan
kawasan. Walaupun perkembangan buku teks
dan
alat bantu pembelajaran yang lain
(teknologi cetak) mendahului film, namun pemunculan film merupakan tonggak sejarah dari gerakan audio-visual ke era Teknologi Pembelajaran sekarang ini.
Di dalam kawasan pengembangan terdapat keterkaitan yang kompleks antara teknologi dan teori yang mendorong terhadap desain pesan maupun strategi pembelajarannya.
Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik, di dalamnya meliputi:
a) Teknologi Cetak
Teknologi
Cetak adalah cara untuk memproduksi
atau menyampaikan bahan, seperti: buku-buku, bahan-bahan visual
yang statis, terutama
melalui pencetakan
8Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran, h. 23-25.
mekanis atau
photografis.
Teknologi ini menjadi dasar untuk
pengembangan dan
pemanfaatan dari
kebanyakan bahan pembelajaran lain. Hasil teknologi ini berupa cetakan. Teks
dalam penampilan komputer adalah
suatu contoh
penggunaan
teknologi komputer untuk produksi.
b) Teknologi audio-visual
Teknologi Audio-Visual merupakan cara memproduksi
dan
menyampaikan
bahan
dengan menggunakan
peralatan dan
elektronis untuk menyajikan pesan-pesan audio
dan visual. Pembelajaran audio-visual dapat dikenal dengan mudah karena menggunakan perangkat keras di dalam proses pengajaran. Peralatan audio-visual
memungkinkan
pemroyeksian gambar hidup, pemutaran kembali suara, dan penayangan visual yang berukuran besar. Pembelajaran audio-visual didefinisikan
sebagai produksi dan pemanfaatan bahan yang berkaitan
dengan pembelajaran
melalui
penglihatan dan
pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus bergantung kepada pemahaman kata-kata dan simbol-simbol sejenis.
c) Teknologi Berbasis Komputer
Teknologi
Berbasis Komputer merupakan cara-cara memproduksi
dan menyampaikan bahan
dengan menggunakanperangkat yang bersumber pada mikroprosesor. Pada dasarnya, teknologi
berbasis komputer menampilkan informasi kepada pembelajar melalui tayangan di layar monitor. Berbagai
aplikasi komputer biasanya
disebut “computer-based intruction (CBI)”, “computer assisted instruction (CAI”), atau
“computer-managed instruction (CMI)”. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat bersifat:
1) Tutorial, pembelajaran utama diberikan,
2) Latihan dan
pengulangan untuk membantu pembelajar mengembangkan kefasihan dalam bahan yang telah dipelajari sebelumnya,
3) Permainan dan simulasi untuk memberi kesempatan menggunakan pengetahuan yang baru dipelajari; dan
4) Sumber data yang memungkinkan pembelajar untuk mengakses sendiri susunan
data melalui tata cara
pengakasesan (protocol) data yang ditentukan secara eksternal.
d) Teknologi Terpadu
Teknologi
Terpadu merupakan cara untuk memproduksi
dan
menyampaikan bahan dengan memadukan beberapa jenis media yang dikendalikan komputer.
Keistimewaan yang ditampilkan oleh
teknologi
ini, khususnya dengan menggunakan
komputer
dengan spesifikasi tinggi, yakni
adanya interaktivitas
pembelajar yang
tinggi dengan berbagai macam sumber belajar.9
3. Kawasan Pemanfaatan
Pemanfaatan
adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat penting karena membicarakan
kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem
pembelajaran. Mereka yang terlibat dalam pemanfaatan mempunyai tanggung jawab untuk mencocokkan pembelajar dengan bahan
dan aktivitas yang spesifik, menyiapkan pembelajar agar dapat berinteraksi
dengan bahan dan
aktivitas yang dipilih, memberikan bimbingan
selama kegiatan, memberikan penilaian atas hasil yang dicapai pembelajar, serta memasukannya ke dalam prosedur
oragnisasi yang berkelanjutan.
9Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran, h. 25-29
Dalam buku Audiovisual Materials in Teaching karya Dale, mengemukakan
model ASSURE, yang
dijadikan acuan prosedur untuk merancang pemanfaatan media dalam mengajar. Langkah-langkah
tersebut meliputi: (1) Analyze leraner (menganalisis pembelajar); (2) State Objective (merumuskan
tujuan);(3) Select Media
and Materials (memilih media dan bahan); (4) Utilize Media and
Materials (menggunakan media dan bahan),
(5) Require Learner Participation
(melibatkan siswa) ; dan (6) Evaluate and Revise (penilaian dan revisi).
a) Pemanfaatan Media
Pemanfaatan
Media yaitu penggunaan yang sistematis dari sumber belajar.
Proses pemanfaatan media merupakan
proses pengambilan
keputusan berdasarkan pada spesifikasi desain pembelajaran. Misalnya bagaimana suatu film diperkenalkan atau ditindaklanjuti dan dipolakan sesuai dengan bentuk belajar yang diinginkan.
b) Difusi Inovasi
Difusi Inovasi adalah proses berkomunikasi melalui strategi yang terencana dengan
tujuan untuk diadopsi. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah
untuk terjadinya perubahan. Dalam hal ini, penting dilakukan
proses desiminasi, yaitu yang sengaja dan sistematis untuk membuat orang lain sadar adanya suatu
perkembangan dengan cara menyebarkan informasi.
Desiminasi ini merupakan
tujuan awal
dari
difusi inovasi. Langkah-langkah difusi menurut Rogers (1983)
adalah :
1) pengetahuan; 4) Implementasi
2) persuasi atau bujukan; 5) Konfiemasi
3) keputusan;
c) Implementasi dan Institusionalisasi
Implementasi
dan
Institusionalisasi yaitu penggunaan bahan dan strategi pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya (bukan tersimulasikan). Sedangkan
institusionalisasi penggunaan yang rutin dan pelestarian dari inovasi
pembelajaran dalam suatu struktur atau budaya organisasi. Begitu produk inovasi telah diadopsi,
proses implementasi dan
pemanfaatan dimulai. Untuk menilai pemanfaatan harus ada
implementasi.
d) Kebijakan dan Regulasi
Kebijakan dan Regulasi; adalah
aturan
dan tindakan yang
mempengaruhi
difusi dan pemanfaatan teknologi pembelajaran. Kebijakan dan peraturan pemerintah mempengaruhi pemanfaatan teknologi. Kebijakan dan regulasi biasanya dihambat
oleh permasalahan etika dan
ekonomi. Misalnya, hukum hak cipta yang dikenakan
pada pengguna teknologi, baik untuk teknologi
cetak, teknologi
audio-visual, teknologi berbasis
komputer, maupun teknologi terpadu.10
4. Kawasan Pengelolaan
Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pembelajaran melalui
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Kawasan pengelolaan bermula dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan
media. Pembauran perpustakaan
dengan program media membuahkan
pusat dan
ahli media sekolah.
a) Pengelolaan Proyek
10Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran, h. 2
Pengelolaan
Proyek meliputi: perencanaan, monitoring, dan
pengendalian proyek desain dan
pengembangan. Pengelolaan proyek berbeda dengan pengelolaan tradisional
(line and staff management) karena : (a) staf proyek mungkin baru, yaitu
anggota tim untuk jangka pendek; (b)
pengelola proyek biasanya tidak memiliki
wewenang jangka panjang atas
orang karena sifat tugas
mereka yang sementara, dan
(c) pengelola proyek memiliki kendali dan fleksibilitas yang lebih luas dari yang biasa terdapat pada organisasi garis dan staf.
b) Pengelolaan Sumber
Pengelolaan
Sumber mencakup perencanaan, pemantauan dan
pengendalian
sistem pendukung dan pelayanan sumber. Pengelolaan sumber memiliki arti
penting karena mengatur pengendalian akses. Pengertian sumber dapat mencakup, personil
keuangan, bahan baku, waktu, fasilitas dan sumber pembelajaran. Sumber pembelajaran mencakup semua teknologi yang telah dijelaskan
pada kawasan pengembangan. Efektivitas biaya dan justifikasi belajar yang efektif merupakan dua karakteristik penting dari pengelolaan sumber.
c) Pengelolaan Sistem Penyampaian
Pengelolaan sistem
penyampaian meliputi
perencanaan, pemantauan pengendalian “cara bagaimana distribusi bahan
pembelajaran
diorganisasikan” Hal tersebut merupakan
suatu gabungan
antara medium dan cara
penggunaan
yang dipakai dalam menyajikan informasi pembelajaran kepada pembelajar.
d) Pengelolaan Informasi
Pengelolaan informasi meliputi perencanaan, pemantauan, dan pengendalian cara penyimpanan, pengiriman/pemindahan atau pemrosesan informasi dalam rangka
tersedianya sumber untuk kegiatan belajar. Pentingnya pengelolaan informasi terletak
pada potensinya untuk mengadakan revolusi kurikulum dan aplikasi desain pembelajaran.11
5. Kawasan Penilaian
Dalam kawasan
penilaian dibedakan
pengertian antara penilaian
program, proyek , produk. Penilaian program – evaluasi yang menaksir kegiatan pendidikan
yang memberikan
pelayanan
secara berkesinambungan dan
sering terlibat dalam
penyusunan kurikulum. Sebagai contoh misalnya penilaian untuk program membaca
dalam suatu wilayah persekolahan, program
pendidikan khusus dari
pemerintah
daerah, atau suatu program pendidikan berkelanjutan dari suatu Universitas.
Penilaian proyek – evaluasi untuk menaksir kegiatan yang dibiayai secara
khusus guna melakukan suatu tugas
tertentu dalam suatu kurun waktu. Contoh, suatu
lokakarya 3 hari mengenai tujuan perilaku. Kunci
perbedaan antara program
dan proyek ialah bahwa
program diharapkan berlangsung
dalam yang
tidak terbatas,
sedangkan proyek biasanya diharapkan berjangka pendek. Proyek yang dilembagakan
dalam kenyataannya menjadi program.
Penilaian bahan (produk pembelajaran) – evaluasi yang menaksir kebaikan
atau manfaat isi
yang menyangkut bendabenda fisik, termasuk buku, pedoman
kurikulum, film, pita rekaman, dan produk pembelajaran lainnya.
Penilaian merupakan proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar,
mencakup : (1)
analisis
masalah; (2) pengukuran acuan patokan; (3)
penilaian formatif; dan (4) penilaian sumatif .12
11Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran, h. 32-33.
12Muhammad Ramli, Media dan Teknologi Pembelajaran, h. 34.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Edgar Dale menciptakan kerucut pengalaman yang dijadikan
sebagai landasan
penggunaan media pembelajaran. Dale berkeyakinan bahwa
symbol dan gagasan yang abstrak dapat lebih mudah dipahami
dan diserap manakala diberikan dalam bentuk pengalaman konkrit.
Semakin ke atas maka akan semakin
berkurang
ke- konkritannya.
Landasan dalam
penggunaan media belajar sangat penting untuk membantu
memahami hubungan media dan
peserta didik, seperti landasan
psikologi, filosofis, teknologi, dan
empirik.
Teknologi
pendidikan adalah
pengembangan, penerapan, dan penilaian
sistem-sistem, teknik, dan alat bantu untuk memperbaiki
dan meningkatkan proses belajar manusia.Teknologi pembelajaran yaitu segala sesuatu yang digunakan sebagai
aplikasi dan sarana dalam mengembangkan dan meningkatkan proses belajar secara
praktis dan efisien. Adapun kawasan teknologi pembelajaran, yaitu kawasan desain,
pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian.
B. Saran
Penulis menyarankan bagi
para pembaca untuk membaca dan memahami
dengan seksama teori tentang
landasan
penggunaan
media
yang mempengaruhi proses pembelajaran dan hal yang mencakup teknologi dalam pembelajaran. Penulis
berharap agar pembaca memberikan masukan terhadap kekurangan pada makalah ini.
22
DAFTAR PUSTAKA
Ramli, Muhammad. Media dan Teknologi
Pembelajaran . Cet. I;Banjarmasin: IAIN
Antasari Press, 2012.
Supriyanti. “Teori Media Pembelajaran dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar
(Cone of
Experience dan Bruner)”. Dwija Inspira. http://dwijainspira.id/index.php/DI/article/view/4/2 (22 September 2021).
Hartanto. “Buku Ajar Media Pembelajaran”. https://hartanto104.files.wordpress.com/2013/09/buku-ajar_media- pembelajaran.pdf (22 September 2021).
Sunhaji. “Konsep Manajemen Kelas dan Implikasinya dalam Pembelajaran”. Jurnal
Kependidikan, vol. 11 no.
2
(November 2014).
https://media.neliti.com/media/publications/104713-ID-konsep-manajemen- kelas-dan-implikasinya.pdf (22 September 2021).
Komentar
Posting Komentar